Monday, April 1, 2013

Jermanizer

Sejak pertama kali suka nonton pertandingan sepak bola di tv, saya langsung jatuh cinta sama tim negara Jerman. Why? karena ada Ballack disitu. Hahaha ya eyalah masa' ada Totti x_x

Ya ya saya adalah termasuk penggila bola sejak SMA. Hampir setiap malem begadang demi nonton bola. Dan saya selalu berlangganan tabloid bola 2x seminggu walaupun harus setengah mati nabung buat bayarnya. Kadang sih papa kasian terus diam-diam beliin tabloid bola buat saya. Oya, klo untuk klub saya dulu adalah Romanisti sejati. Seluruh kamar penuh dengan hiasan, poster, tempelan, sampe saya juga mengoleksi beberapa barang yang berbau klub favorit saya, AS. ROMA. 

Dulu sih masih kuat-kuat aja nonton bola sampe pagi. Bahkan sering ga tidur demi nonton bola. Di sekolah juga masih bisa mengikuti pelajaran tanpa tertidur di meja. Ga pernah merasa pusing karena kurang tidur. Paling jerawat aja yang sering bermunculan efek sering begadang. Tapi toh saya cuek. Yang penting ga ketinggalan nonton bola.

Pernah ada kejadian suatu ketika tv 14 inch satu-satunya di rumah rusak. Tau-tau mati tanpa ketauan sebabnya. Mungkin karena udah uzur. Sedangkan saat itu adalah minggu-minggu akhir menuju perebutan schdetto, saya bingung harus gimana caranya agar bisa tetep nonton. Ga mungkin saya numpang tetangga sebelah rumah karena liga italia selalu disiarkan tengah malam. Kemudian saya teringat nenek yang tinggal di kampung lain. Keesokan harinya saya langsung meluncur ke rumah nenek. Dan nginep! Papa bingung nyari kemana saya pergi. Saat itu saya memang ga sempat pamit ke papa karena papa masih di kantor. Jadilah saya titip pesan ke adek. Semalam di rumah nenek dan berhasil (tetap) mengikuti pertandingan liga italia. Esok harinya papa telpon dan menyuruh saya pulang. Papa bilang beliau mau mengajak saya beli tv baru. Papa bilang klo papa ga tega melihat saya "ngungsi" demi nonton bola. Hahaha.. Papa emang TOP!

Ya, saya memang sangat fanatik dengan bola saat itu. Kenapa saya bilang "saat itu", karena hal itu sudah berubah sekarang. Bukan karena saya berpindah hati ke klub yang lain tapi memang karena saya sudah berhenti nonton bola lagi. Tanya kenapa? karena sekarang saya benar-benar mikirin kesehatan. Klo dulu mah cuek. Boleh dibilang saya tergolong paranoid dengan hal yang menyangkut kesehatan. Makanan dan gaya hidup saya harus benar-benar saya jaga sedari sekarang. So saya pun merelakan untuk "putus" dengan bola. Kecuali untuk event-event besar seperti Piala Dunia atau Piala Eropa.





Thursday, March 21, 2013

Ini hobiku

Saya punya hobi menyanyi sejak kecil. Hobi ini menurun dari papa yang hobi menyanyi dan musik juga. Papa sejak jaman kuliah udah main band. Ahli mainin gitar. Bahkan dulu papa rambutnya gondrong saking "anak band" banget. Hahaha

Karena itu pula, sejak kecil saya sering disuruh-suruh menyanyi di rumah. Karaokean di rumah. Awalnya diajarin menyanyi lagu-lagu yang enteng seperti lagunya Desy Ratnasari dan Mayangsari. Lama-lama mulai disuruh menyanyi lagu yang susah seperti Nike Ardilla. Tiap hari harus selalu absen menyanyi, minimal 2 lagu. Setiap pulang sekolah Tape di rumah udah siap dipakai. Tinggal ngangkat mic aja. Pernah saya disuruh nyanyi lagunya Nike Ardilla beberapa hari berturut-turut sampe suara saya pun ikutan serak, jadi mirip dengan suara asli Nike Ardilla. Mantap kan? :D

Pernah ada kejadian sepulang sekolah saya nolak permintaan mama untuk nyanyi. Sampe-sampe dirayu mau dikasih duit 1000 untuk satu lagu. Terpaksa deh saya setuju, dan 2 lagu saya nyanyiin. Udah kayak ngamen aja kan? Lumayan buat jajan. Hihihi

Setelah berhasil menjadi penyanyi rumahan, mama dan papa pun ga tinggal diam. Beliau berdua sering juga meminta saya nyanyi klo ada acara 17 Agustusan di kampung. Kadang nyanyi di pesta pernikahan sodara. Puncak saya tampil dengan lingkup yang lebih luas yaitu ketika ada acara di sekolah. Rapat wali murid seluruh kelas di SMP. Kebayang dong sebanyak apa orangnya? Kebetulan guru yang megang seksi acara adalah temen papa. Nah,, jadilah saya mendadak diminta menjadi pengisi acara. Huh, nyebelin!

Saking takut dan ga pede-nya saya waktu itu, diam-diam saya kabur dari sekolah. Ngacir pulang ke rumah dengan alasan sakit perut. Padahal mah biar ga disuruh nyanyi di panggung. Tapi ternyata rencana saya gagal total. Pak Guru menjemput saya ke rumah, dan dengan halusnya meminta saya kembali ke sekolah buat nyanyi. Akhirnya dengan terpaksa saya pun mengikuti apa kata Pak Guru. Dan Alhamdulillah sukses walaupun dengan gaya datar (hanya melenggak lenggok kanan kiri) dan tangan gemetar. Beberapa pujian dari orangtua teman-teman saya pun sampe ke telinga saya. Uhuy! *idung mekar*

Hobi itu ternyata terbawa sampe sekarang ketika saya sudah masuk dunia kerja. Setiap kali ada acara saya selalu diminta untuk mengisi. Bahkan kadang saya diminta ikut lomba menyanyi melawan kantor lain. Seru! Yang ga kalah seru adalah setiap kali ikut lomba saya dapet kostum gratis. Enak kan? :D

Vocal Group kantor

Kalau kata orang "Writing is healing", saya mau menambahi "Writing and singing are healing". Lumayan bisa bikin plong hati. Selain ibadah tentunya ya. Karena toh sebagai manusia kita membutuhkan cara yang baik untuk melampiaskan rasa yang ga enak di dalam dada. Ya ga? :D

Walaupun saya bukan penyanyi profesional, tapi saya bahagia bisa menyanyi untuk papa mama. Saya yakin mereka bahagia ketika mendengar saya menyanyi. Asik! *wink*

Eeeeaaaa :D

So, what's ur hobby? :p

Monday, March 18, 2013

C.U.R.H.A.T

Hallo sahabat blogger semua,,,,

Ga terasa ternyata udah hampir 2 minggu ini saya off dari dunia blog ya. Ada yang kangen ga ya? Absen dong disini klo ada yang kangen. Hahaha... Maaf juga klo saya belum sempet blogwalking ya, maklum deh bulan ini volume pekerjaan lumayan menyita pikiran. Sampe bikin ga mood buat ngeblog. Ga mood buat ngapa²in deh. Selain ada hal lain juga yang menyita pikiran.

Beginilah rasanya klo kerja tanpa ada passion. Kerja hanya sebatas kerja dan menunaikan kewajiban saja. Ya mau bagaimana lagi, karena sampe saat ini saya belum menemukan dimana passion saya. Seperti mbak Trinity (penulis The Naked Traveler) yang sudah menemukan passion-nya yaitu menjadi Travel Writer. Yang saat ini sedang menjalani #TNTrtw alias The Naked Traveler Round The World, yaitu traveling selama 1 tahun. Tanpa sponsor! Walaupun harus berkorban sedemikian besar, tentu saja itu bukan menjadi masalah karena memang disitulah dia menemukan kebahagian.

Saya jenuh. Sungguh! Saya butuh semacam refreshing. Pengen sekali rasanya cuti untuk sekedar berleha-leha di rumah. Menjadi fulltime mom yang bisa mengantar anak ke sekolah setiap hari. Menjemputnya dan kemudian bercerita di dalam angkutan umum. Memasak dan membereskan rumah sambil menunggu suami pulang kerja. Ah, rasanya begitu menyenangkan. Saya bisa membayangkan betapa bahagianya anak saya ketika pulang sekolah mendapati saya yang pertama kali dilihatnya. Perasaan yang sama yang pernah saya rasakan dulu ketika masih sekolah. Setiap kali bel pulang berbunyi, saya hanya ingin sesegera mungkin berlari pulang, membuka pintu rumah dan melihat senyum mama. Itu saja.

Si Panda ikutan stres :D
Lalu kenapa ga cuti aja? Tinggal ambil cuti trus santai deh di rumah. Maunya sih begitu. Tapi kenyataannya tidak semudah itu. Menjadi pegawai kantoran yang jatah cutinya tidak seberapa juga merupakan problem bagi saya. Jatah cuti yang "tidak utuh". Mau ga mau saya harus me-menej nya sebaik mungkin klo ga mau gaji dipotong karena terpaksa harus ijin. Huhuhu... Menyebalkan!

Bukan berarti saya tidak bersyukur dengan keadaan, bukan! Sama sekali bukan! Sungguh saya bersyukur dengan segala yang saya miliki saat ini. Pekerjaan yang menghasilkan gaji yang cukup, suami yang sempurna, anak yang baik, orang tua dan saudara yang sehat wal'afiat. Semua itu adalah karunia yang tiada terkira.
 
Tapi toh saya hanya manusia biasa. Boleh dong curhat dikit? Hahaha... Abaikan deh ya... *nyeruput teh kotak*

Happy Monday ♥

Wednesday, March 6, 2013

KoBar ♥♥♥

Siapa yang ga suka ditraktir? hayo ngaku?!! Yang bilang ga suka pasti boong tuh. Manusiawi banget toh klo seneng ditraktir. Begitu pula dengan saya. Tapi tetep kok saya lebih suka nraktir. Wossaaahhh :D

Ketika saya dinas ke Makassar akhir tahun lalu, salah satu anggota tim kami berjanji mau menraktir. Karena katanya berkat kami, dia jadi ikutan masuk tim yang akhirnya bisa ikutan dinas ke luar kota, terlebih lagi dinas ke lain pulau. Kebetulan juga teman saya itu belum pernah naik pesawat. Jadi momen dinas itu menjadi sangat berarti bagi dia. Jadilah dia menumpahkan rasa syukurnya itu dengan menraktir kami. (Padahal karena kami palak rame-rame).

Malam itu begitu tiba di Makassar, Mas Mahar (orang yang janji nraktir) langsung mengajak kami ke restoran yang menyediakan Konro Bakar. Tau dong apa itu Konro Bakar? Makanan khas Makassar yang sudah sangat terkenal se-antero jagad raya, terpampang nyata, melayang di cakrawala, melintasi garis katulistiwa (pinjem istilahnya mba Syahrini). Tapi herannya, saya justru belum pernah mencoba sekali pun. Bukan karena ga doyan, tapi entah kenapa rasanya malas untuk mencoba walaupun di Jakarta juga banyak dijumpai jenis makanan itu. Tapi karena ini dalam rangka ditraktir, yang ga perlu bayar, jadi dengan terpaksa saya setuju saja dengan rencana Mas Mahar. Oke lah, mari kita makan KoBarrrr. Hihihi

Restoran itu bernama Konro Karebosi yang terletak di Jalan Gunung Lompobattang No. 41-43, Makassar. Ternyata ada juga cabangnya di Jakarta, tepatnya di Jalan Boulevard Raya Blok T.A.2 No. 38, Kelapa Gading Permai, Jakarta Utara. (ngintip alamatnya di gambar) :D


Ga susah untuk mencari lokasi restoran karena memang udah terkenal. Kita tinggal bilang aja ke sopir taksi minta diantar ke tempat makan Konro Bakar yang terkenal, dan si abang sopir taksi pun langsung tau. 

Begitu masuk ke dalam restoran, saya kaget karena ternyata restoran penuh sesak dengan pengunjung, bahkan sampe ada yang rela antri. Dalam hati saya mbatin, pasti oke nih restoran. Pengunjungnya aja sampe bejubel gini. Karena ga dapet tempat di lantai 1, pelayan menyuruh kami untuk naik keatas, tapi rupanya lantai 2 pun penuh. Akhirnya kami pun terpaksa berdiri sebentar sambil menunggu pengunjung lain selesai makan. Untung cuma sebentar, klo lama bisa-bisa saya mutung (bukan mutung kesarung lho ya!) dan minta pulang.

Begitu dapet tempat duduk, Mas Mahar memesan 4 porsi Konro Bakar lengkap dengan nasi putih. Sempet kepikiran pasti bakalan lama nunggu makanan dateng karena banyak banget pengunjung disitu. Ciyus! Tapi ternyata ga lho, sekitar 5-10 menit pesanan makanan kami dateng. Wuihh porsinya guedeeee cyin! *lap iler*

This is it, (gambar) Konro Bakar Karebosi yang super mantep!



Itulah kali pertama saya mencicipi makanan yang bernama Konro Bakar. Dan saya suka! Biarpun proses makan memakan nya lumayan repot (lha gimana ga repot wong makan gituan pake sendok garpu x_x ) dan bikin belepotan, tapi semua terbayar sudah setelah melihat piring saya kosong tinggal tulangnya saja.  

I'll see you soon, Kobar, Insya Allah bulan depan ya :*

Ayo siapa yang mau ikut? Ditraktir deh :P

Monday, March 4, 2013

Blogiveaway - my travelife


Hai hai... Apa kabar?? Me? unwell :( (ga nanya ya? yaudah biarin deh) Iseng-iseng blogwalking eh nemu begituan tuh diatas, dan langsung deh ikutan. Kebetulan saya kan termasuk yang sering bikin review. Apa aja di-review. Hobi suka ngomentarin orang kali ya. Hihihi... Ok deh langsung saja, dengan ini secara resmi saya ikut sertakan postingan saya dibawah ini untuk Blogiveaway Bersama Tomkuu. Doakan semoga saya berhasil ya. Hahaha... Bismillah... 
 

Ga nyadar ternyata mostly postingan review saya masuk kategori "traveling". Ya memang saya hobi traveling sih, jadi harap maklum dan jangan komplain ya. Hihihi...

Friday, March 1, 2013

Pelangi di Bedugul

Setahun yang lalu saya dengan 3 teman seruangan traveling ke Bali. Kenapa Bali? karena salah satu teman saya belum pernah ke Bali, jadi lah demi dia kita rela memilih Bali sebagai destinasi traveling singkat kala itu. Saya sebut singkat karena memang waktunya yang mepet. Berangkat Jumat malam sepulang dari kantor, lalu pulang minggu malamnya. Senin udah harus masuk kantor lagi. 

Sempet ada insiden ketika pesen tiket, nyari tiket yang promo ke Bali pas weekend kayaknya emang ga mungkin ya. Karena banyak kepala yang mau pergi, jadi agak ribet juga. Saya yang ditunjuk sebagai EO pun setengah mati nyari tiket promo, sampai akhirnya ketemu tiket Batavia Air dengan harga ter. Pulang pergi sekitar 1jt. 

Nah, ternyata ada kesalahan ketika proses pemesanan tiket online. Saya pesan tiket untuk berangkat 4 orang, tapi untuk pulangnya saya cuma pesen 1 orang, yaitu nama saya sendiri. Tersadar setelah proses pembayaran. Begitu saya coba pesen 3 tiket lagi untuk mereka, lha kok tiket promonya udah abis. Huwaaaaa.... Kontan saja 3 teman saya itu ngomel, ngamuk, curiga ga karuan. Mereka pikir saya sengaja pesen untuk diri sendiri. Terpaksa saya cari alternatif maskapai lain, dan apesnya harga termurah di maskapai penerbangan lain tetep lebih mahal dari pada tiket pulang yang saya beli di Batavia Air. Selisih sekitar 200rb. Apa boleh buat, tiket pulang harus tetep dibeli. Saya pun pasrah dengan omelan 3 temen saya yang lain. Ampun! Hahaha


Jadi dengan adanya insiden tiket, saya terpaksa harus pulang sendirian dengan Batavia Air sedangkan 3 teman saya menggunakan Citilink. Hikss

Selama di Bali, tempat yang paling berkesan yaitu ketika kita ke Bedugul. Ah seru banget karena waktu itu hujan, danau beratan-nya juga banjir. Saya berasa pengen nyebur dan berenang disitu. Hahaha... 


Kami sempat neduh di depan pintu masuk lokasi wisata sambil nunggu hujan reda, tapi setelah beberapa lama menunggu ternyata hujan tak kunjung reda sehingga kami putuskan untuk sewa payung yang banyak ditawarkan oleh penduduk lokal. Harga sewanya klo ga salah inget sih cuma 5rb. Kami menyewa 2 payung untuk dipakai berempat. Payungnya lucu, warna warni kayak rainbow cake yang lagi nge-trend sekarang. Hihihi...

Bedugul, Februari 2012

Saking excitednya karena cuaca mendung dan gerimis ditambah dengan rainbow umbrella yang lucu, saya jadi keranjingan berpose aneh di setiap sudut lokasi. Di bawah ini adalah salah satu foto saya yang kece punya! Sok imut kan, pake angkat satu kaki segala. Biarin lah! :D

Ada cerita menegangkan ketika saya berfoto disitu. Saya sempat mencoba foto pake gaya loncat berdua dengan mbak Windi teman saya. Begitu saya loncat dengan semangatnya, dari kejauhan terdengar suara nenek yang teriak, dia melarang kami untuk berfoto sambil loncat-loncatan disitu, katanya ga sopan. Omelannya terdengar panjang dan belum berhenti sampai akhirnya kami berempat kabur, ngacir menjauh dari lokasi itu karena nenek² tadi sepertinya berniat nyamperin kami. Hiiii....... Takuuuuuuuttttttt.......


Ada Pelangi di atas kepala saya :D

Pengalaman hujan²an paling seru yang pernah saya alamin. Hujan²an sambil diomelin nenek² ga dikenal. Bodo amat lah, yang penting saya punya foto imut itu sebagai kenang-kenangan. Yang tak terlupakan tentunya. 

Kangen kamu, Bedugul! *kiss*

Thursday, February 28, 2013

How Deep Is Your Love? [Cerita Fiksi] (Bagian II - Tamat)


Malam itu Anisa dan ibunya sibuk mencari pinjaman kebaya ke rumah salah satu saudaranya yang tinggal sekampung. Esok hari mereka harus berangkat ke Jakarta untuk acara wisuda Anisa. Ya, selama ini Anisa memang kuliah sambil bekerja. Membiayai kuliahnya sendiri dari uang hasil kerjanya. Betapa bangganya sang Ayah dengan Anisa yang sebentar lagi akan menjadi seorang Sarjana Manajemen. Sayangnya Anisa hanya bisa menghadiri acara wisudanya dengan ditemani ibu dan adik laki-lakinya, karena Ayahnya sedang sakit.

Dengan kondisi tubuh yang masih lemah karena baru saja menjalani operasi tumor, Anisa tetap semangat mengikuti wisuda sarjananya. Tentu saja karena dia akan segera bertemu dengan Erik yang sudah terlebih dulu berangkat ke Jakarta untuk mengikuti acara wisudanya. Kebetulan Erik mempunyai saudara di Jakarta sehingga dia menyempatkan diri untuk singgah.

Acara wisuda pun dimulai, Anisa dan ibunya tampil cantik dengan setelan kebaya warna merah terang. Erik datang menemani Anisa. Dengan setelan kemeja dan celana hitam, Erik terlihat begitu putih dan tampan. Tetapi ada yang aneh dengan sikapnya siang itu. Erik begitu dingin dan banyak diam. Anisa bisa merasakan ada perubahan dalam diri kekasihnya itu.

Luka bekas jahitan di perutnya terasa perih karena Anisa harus mengenakan kebaya yang ketat. Tapi rasa penasaran dengan sikap kekasihnya yang dingin, jauh lebih menyiksa. Harusnya hari itu menjadi saat yang sangat membahagiakan bagi Anisa, tapi sayangnya dia justru kehilangan momen itu. Dia berniat menanyakan kepada Erik tentang sikap dinginnya itu setelah mereka kembali ke Pontianak.

Setelah wisuda, Anisa dan Erik langsung kembali ke Pontianak untuk kembali bekerja di kantor. Erik tetap dengan sikap dinginnya. Hal itu sungguh menyiksa bagi Anisa terlebih dengan kondisi fisiknya yang belum sepenuhnya pulih. 

Sesampainya mereka di Pontianak, Erik kemudian bercerita bahwa dia mendapat tekanan dari keluarganya ketika di Jakarta. Rupanya saat itu ayah dan ibunya pun datang ke Jakarta. Mereka melakukan semacam "sidang" kepada Erik. Mencoba melakukan intervensi hubungannya dengan Anisa. 

Erik : "Kamu tau apa yang keluargaku lakukan?"
Anisa : "Apa?"
Erik : "Tapi janji ya kamu ga boleh nangis, kamu harus tetep kuat" (Erik sangat mengetahui bahwa kekasihnya itu sangat lemah dan mudah sekali down)
Anisa : "Selama ada kamu, insyaAllah aku kuat kok"
Erik : "Ayahku mencoba memisahkan kita dengan meminta kantor untuk memindahkanku ke Batam"

Batam - Pontianak tentu saja bukan jarak yang dekat. Anisa terdiam. Wajahnya seperti tanpa ekspresi. Yang jelas dia sangat terpukul dengan apa yang baru saja Erik ceritakan. Betapa hubungan mereka sudah sangat mengganggu keluarga Erik. Mungkin bagi keluarga Anisa juga, hanya saja reaksi keluarganya jauh lebih baik dibanding keluarga sang kekasih. Dia tidak pernah menyangka bahwa intervensi keluarga Erik akan sejauh ini. 

Dan benar saja, selang 5 hari sejak Erik bercerita, kantor mengumumkan adanya mutasi kantor. Erik benar-benar dipindahkan ke Batam. Di salah satu kantor cabang perusahaan yang ada disana. Sedangkan Anisa tetap di Pontianak. Seperti mimpi buruk bagi keduanya. Anisa merasa bahwa Tuhan kembali sedang menjauhkan mimpinya (lagi), yaitu Erik. Seperti dulu saat dia harus menunda mimpinya berkuliah dan baru bisa meraihnya beberapa waktu yang lalu. Mimpi yang tertunda. 

Dia mencoba berpikir positif bahwa Erik adalah mimpinya yang tertunda, dia yakin suatu hari nanti mereka akan kembali bersatu. Berat memang, tapi dia harus tetap menghadapinya. Erik juga sangat membantu menenangkan hati Anisa. Saling menenangkan tepatnya.

Seminggu sudah Anisa berpisah dengan Erik. Berpisah karena jarak, tapi hubungan mereka masih berjalan. Setiap akhir pekan Erik selalu menelpon Anisa. Mereka bercerita tentang apa saja yang mereka alami. 

Keyakinan untuk tetap bisa menjalani hubungan selalu Anisa pegang teguh. Beberapa teman lelaki mencoba mendekatinya tapi dengan halus dia tolak. Karena dia masih tetap setia menunggu Erik. 

Sampai pada suatu hari ketika hidayah itu datang, Anisa memutuskan untuk berjilbab. Menutup aurat yang merupakan kewajiban bagi seluruh wanita muslim. Dia bingung harus bagaimana. Apakah dia harus melaksanakan kewajibannya sebagai seorang wanita muslim dengan mengenakan jilbab? Atau masa bodoh dengan hidayah itu dan tetap bersama Erik? Pilihan yang pertama lah yang kemudian dia pilih. Tapi tetap dengan harapan Erik akan setuju dan terus melanjutkan hubungan.

Genap seminggu Anisa berubah penampilan dengan mengenakan jilbab. Seperti biasa setiap akhir pekan Erik menelpon. Anisa menggunakan kesempatan itu untuk menceritakan perubahan penampilannya.

Anisa : "Mas, aku sekarang pake jilbab"
Erik : "Serius kamu dek?" (dengan nada kaget)
Anisa : "Iya, udah seminggu ini aku pake"
Erik : "Jangan dulu lah, kamu tau kan klo kita akan semakin sulit bersatu dengan jilbabmu itu"
Anisa : "Iya aku tau, tapi aku sudah memutuskan untuk berjilbab dan ga akan melepasnya lagi" (dengan suara gemetar menahan tangis)
Erik : "Ya sudahlah terserah aja, putus aja lah kita!" 
Anisa : "Klo kamu memang ga bisa nerima aku, ya sudah gapapa kita putus" (sambil menangis)

tut tut tut tuuutttt... 

Anisa menganggap bahwa Erik hanya emosi mendengar keputusannya untuk berjilbab. Dia bahkan masih berharap hubungan mereka akan baik-baik saja. Tetap baik-baik saja. Erik akan kembali bersamanya.

Harapan itu tiba-tiba lenyap ketika dia membuka website perusahaan tempatnya bekerja, dan melihat foto Erik terpampang disitu. Fotonya yang putih dan tampan. Di deretan kolom "BERITA DUKA". 

Telah meninggal Ignatius Erik Suherman, Kamis 16 Mei 2004 di Rumah Sakit Cipta Husada, Batam pukul 16.00 WIB karena sakit tumor usus. 

Anisa mematung. Bulir airmata membasahi pipi dan jilbabnya. Erik tidak akan pernah kembali bersamanya. Erik hanyalah mimpi. Bukan mimpinya yang tertunda melainkan mimpi yang tidak akan pernah menjadi nyata dalam kehidupannya. Erik telah tiada.



-End-